Categories: Uncategorized

Fanjen On Kuan, Tinjauan Teologi dan Filsafat Perjalanan Atoni Pah Meto | Mio Kitchen


Penulis: Frederikus Suni
Fanjen On Kuan.Dok.
Tafenpah.com

Tafenpah.com – Setiap jejak langkah, tentunya ada tujuan yang ingin dicapai oleh setiap orang. Seseorang bepergian karena adanya dorongan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Kualitas diri yang baik menjadi idaman manusia.

Manusia memutuskan untuk keluar dari kampung halamannya, termasuk meninggalkan kedua orang tuanya, adik, kakak beserta sanak familynya, bukan tanpa alasan.

Perihal alasan dari seseorang untuk bepergian atau merantau ke belahan dunia mana pun, tentunya berbeda. Perbedaan tersebut, mencerminkan betapa kayanya teologi dan filsafat perjalanan manusia.

Seseoang berteologi dan berfilsafat, tidak serta merta harus melalui dunia pendidikan formal. Karena sejatinya, pengalaman hidup setiap orang telah memampukan dirinya untuk bertanya dan terus bertanya tentang arti dari sebuah perjalanan.

Dalam perjalanan, pasti ada suka dan dukanya. Keadaan psikologis tersebut, mendorong setiap orang untuk masuk dalam dunia kontemplasi atau tindakan merenungkan.

Merenungkan setiap proses kehidupan dapat mendekatkan kita pada Tuhan yang kita imani. Proses tersebut juga melahirkan pertanyaan-pertanyaan besar lainnya dalam kehidupan ini, di antaranya: Siapakah diriku? Kapan berakhirnya penderitaan? Di manakah letak kebahagiaan? Ketika mendapatkan kesuksesan, hal apa yang perlu saya lakukan? Bagaimana relasiku dengan sesama, semesta dan Tuhan yang saya imani?

Menariknya, di tengah deretan pertanyaan tersebut, ada satu keunikan yang dimiliki oleh Atoni Pah Meto atau etnis Dawan yang mendiami kota Kupang (Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur) dan sekitarnya, yakni: FANJEN ON KUAN.

Fanjen On Kuan berarti; KEMBALI KE KAMPUNG.

Fanjen On Kuan mengandaikan kerinduan para perantau atau diapora Atoni Pah Meto yang sudah lama pergi meninggalkan segala kesunyikan dan kenyamanan kampung halamannya.

Momentum kerinduan tersebut, secara psikologis menyimbolkan perasaan yang sangat mendalam tentang arti dari akhir sebuah perjalanan di negeri asing.

BACA JUGA: 

Teologi Natal dan Kembalinya Perantau Atoni Pah Meto ke Kuan Bale Biinmaffo, Tanah Perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Fanjen On Kuan juga merepresentasikan teologi kembalinya diaspora atau perantau yang berasal dari suku Timor Dawan NTT.

Semakna dengan kisah perjalanan para Nabi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan juga para Rasul, Santo dan Santa (Orang Kudus) dalam tradisi Perjanjian Baru.

Di mana Allah Tri Tunggal Mengutus mereka untuk pergi meninggalkan kampung halamannya menuju tanah terjanji, dengan jaminan akan perlindungan-Nya.

Namun, pada prosesnya tentu saja tidaklah mudah bagi mereka. Karena ada pelbagai cobaan dan juga tantangan yang mereka hadapi.

Ada yang memilih untuk menetap di negeri asing dan tidak kembali ke kampung halamannya. Demikian pula, para diaspora atau perantau asal suku Timor Dawan (Atoni Pah Meto).

Dalam konteks teologi kembalinya perantau Atoni Pah Meto, di sinilah kita akan memaknai arti dari filsafat perjalanan.

Apa itu Filsafat Jalanan?

Sejatinya ketika ada keinginan untuk bertanya, maka di situlah arti dari berfilsafat. Filsafat jalanan menandakan sebuah pergumulan hidup yang dialami oleh setiap manusia, khususnya dalam konteks tulisan ini adalah mereka yang berasal dari suku Timor Dawan NTT.

Atoni Pah Meto, entah masih berada di tanah rantauan atau yang saat ini sedang berada di kampung halaman, pastinya sedang bergumul dengan kehidupannya sendiri.

Pergumulan tersebut, pada akhirnya akan melahirkan keputusan-keputusan bijaksana dari setiap orang. Keputusan untuk kembali ke kampung halaman (Fanjen On Kuan), khususnya Atoni Pah Meto akan bermuara pada ikatan dirinya dengan orang tuanya, tanah kelahirannya, kebudayaannya, cara pandangnya, karakternya, beserta alam di mana ia dilahirkan, dan pada akhirnya tanah kelahirannya menjadi saksi dari perjalanan hidupnya.

Disclaimer: Apabila ada rekan kreator, Jurnalis dan siapa saja yang ingin menayangkan ataupun mengutip tulisan ini, mohon sertakan link dan juga alamat portal Tafenpah sebagai bagian dari penghargaan terhadap karya Jurnalisme.

rasasalsa166@gmail.com

Recent Posts

Scincidae) from the Serra da Neve Inselberg, southwestern Angola | Mio Kitchen

 Panaspis ericae   Marques, Parrinha, Lopes-Lima, Tiutenko, Bauer & Ceríaco, 2024photos by Arthur Tiutenko. AbstractFour species of the…

9 menit ago

Megophryidae) confirms underestimated diversity in the Gaoligong Mountains, with the description of A New Species | Mio Kitchen

 Xenophrys yingjiangensis Wu, Yu, Chen & Che,  in Wu, Yu, Chen, Kilunda, Zhang, Zuo, Zuo, Duan et Che,…

25 menit ago

Sukina Otoko to Wakaretai (2024) – 07+08 SUBTITLE INDONESIA | Mio Kitchen

Kembali lagi bersama Wibusubs dalam garapan dorama baru musim semi! Ini dia dorama musim semi…

2 jam ago

[Paleontology • 2024] Jurassic Fossil Juvenile reveals prolonged Life History in early Mammals | Mio Kitchen

AbstractLiving mammal groups exhibit rapid juvenile growth with a cessation of growth in adulthood. Understanding…

4 jam ago

Species New to Science: Limnonectes | Mio Kitchen

Red circles on the map represent genetic sampling localities for Limnonectes cassiopeia, new species, blue diamonds…

5 jam ago

Aenetus) from Australia and Papua New Guinea | Mio Kitchen

 AbstractFour new Aenetus Herrich-Schäffer species are described from northern Australasia; Aenetus simonseni sp. nov. from the top-end of the Northern Territory, Australia, A.…

5 jam ago